Setelah Anies Baswedan resmi menjadi Capres poros Demokrat-Nasdem-PKS, kini pekerjaan rumah selanjutnya adalah pasangan Anies. Jika Ganjar saat ini dipasangkan dengan Yenny Wahid, maka Anies belum memiliki pasangan. Namun seperti yang sudah saya ramalkan, wapres Anies kemungkinan seorang perempuan nasionalis. Tentu pasangan idaman Anies adalah Khofifah Indar Parawansa.
Kenapa Khofifah? Pertama, Khofifah ini lekat dengan imej toleran. Selain itu Khofifah Indar Parawansa juga memiliki basis pendukung yang kuat di Jawa Timur. Tentu bonus lainnya adalah karena ia seorang perempuan. Khofifah sangat lengkap untuk menutupi kelemahan Anies dan bahkan menaikkan nilai jual Anies sebagai wapres dalam Pilpres 2024.
Namun, Khofifah memiliki kelemahan karena dianggap berseberangan dengan Muhaimin Iskandar sehingga membuat suara PKB sulit masuk. Padahal, suara PKB cukup signifikan. Khofifah Indar Parawansa juga baru saja mengalami kejadian tidak mengenakkan karena kantornya digeledah KPK. Dengan beberapa kelemahan ini, Khofifah juga berpotensi menjadi kartu mati jika menjadi wapres Anies karena bisa menjadi masalah jika ia tiba tiba ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dalam proses Pilpres.
Lalu apa pilihan lainnya? Anies bisa menggandeng Susi Pudjiastuti. Susi Pudjiastuti memiliki tingkat keterpilihan yang baik dan menjadi ikon pemimpin feminis yang merakyat. Susi juga pandai berkomunikasi di media sosial. Kelemahan Susi Pudjiastuti sebagai wapres Anies adalah karena ia terhitung sebagai sosok yang benar benar ‘random’ untuk Anies Baswedan. Ia bertato dan seringkali melawan norma norma sosial untuk perempuan. Ini bisa membuat ketidaknyamanan bagi kaum Islam fundamentalis.
Bagaimana dengan pilihan dalam kandang sendiri? Ada Agus Harimurti dan juga untuk perempuan ada Ledia Hanifa dari PKS. Ledia merupakan kasus khusus di PKS dimana seorang perempuan bisa begitu berpengaruh di PKS dan bahkan dicalonkan sebagai pimpinan DPR. Ledia Hanifa bisa menjadi pilihan aman untuk Anies. Masalahnya, ceruk pemilih mereka sama. Ledia Hanifa juga tidak bisa menguatkan imej Anies sebagai tokoh nasionalis. Ia hanya bisa menarik perhatian perempuan.
Perempuan Juga Bukan Jaminan sebenarnya, kalau sekedar harus perempuan.
Kita pernah melihat ada capres wanita di sosok Megawati Soekarnoputri. Kenyataannya, pemilih wanita tidak begitu bersemangat untuk memilih Megawati dan lebih suka memilih Susilo Bambang Yudhoyono. Namun harus kita akui kalau itu kejadian hampir dua puluh tahun yang lalu. Harusnya kondisi saat ini sudah berbeda. Bisa jadi ada kerinduan dari wanita untuk memiliki pemimpin wanita pada hari ini.